AKSI NYATA 3.1

 

AKSI NYATA 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

oleh 

Dwi Sudarti


SMAN 1 Pinoh Utara yang terkenal dengan SMANTURA adalah sekolah yang baru 8 tahun berdiri, terletak di sebrang sungai Melawi. Siswa yang belajar di SMANTURA berasal dari masyarakat dari sebrang sungai Melawi sehingga warga sekolah tidak begitu banyak. Sekolah juga terletak jauh dari pemukiman warga, modal lingkungan sangat mendukung seperti adanya udara sejuk dan halaman yang hijau sehingga proses pembelajaran lebih nyaman dan kondusif.

Pada aksi nyata 3.1 ini saya melakukan praktik pengambilan keputusan langsung di lingkungan sekolah sebagai guru atau pemimpin pembelajaran. Menjadi guru merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, yang pasti, saya dapat berbagi ilmu pengetahuan kepada siswa. Meskipun terkadang siswa kurang menyukai pelajaran yang saya ampu yaitu bahasa inggris namun saya berusaha untuk bagaimana membuat mereka tertarik dan akhirnya mau belajar bahasa inggris dengan sungguh-sungguh.

Saya juga sering dilema etika pada kasus-kasus yang dihadapi apalagi saya pernah menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan yang setiap hari mendapatkan laporan tentang perilaku siswa yang positif tapi lebih sering yang negatif. Siswa yang datang dari latar belakang yang berbeda dan masalah yang berbeda sehingga guru harus bijak dalam mengambil keputusan. Dilema etika dapat diatasi dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan, rasa tanggung jawab dan berpihak pada murid.

Jujur saja, selama ini saya menangani kasus dan mengambil keputusan agak sulit karena belum menemukan formula yang baik yang bisa saya jadikan pedoman untuk mengambil keputusan namun setelah saya menjadi guru penggerak, saya belajar dari mulai dari diri hingga eksplorasi konsep pada modul 3.1 ini sehingga saya mendapatkan hal-hal menarik, ilmu dan wawasan baru yang selama ini saya cari dan saya berharap dapat menerapkan teori-teori ke dalam aksi nyata khususnya di lingkungan SMAN 1 Pinoh Utara.

Dalam pengambilan keputusan yang beretika ada 4 paradigma utama:

· Individu lawan masyarakat (individual vs community)

· Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

· Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

· Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Seorang pemimpin harus dapat memilih paradigma yang terjadi pada kasus dilemma etika ditentukan oleh nilai-nilai yang diyakini dan nilai budaya yang dianut oleh komunitas atau sekolah. Memang akan berat karena yang dipertentangkan adalah dua nilai kebajikan yang sama-sama penting.

3 Prinsip Berpikir

Dalam mengambil keputusan saya harus sudah memahami tentang prinsip pengambilan keputusan yaitu

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Setelah itu kita harus memahami Konsep dalam pengambilan dan pengujian keputusan yang saya pelajari ada 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

 

Kasus Dilema Etika di Sekolah

1.Kasus Pemberian Nilai

Siswa kelas XII yang biasanya rajin masuk sekolah, mengerjakan tugas dan mendapatkan nilai yang bagus, tapi ketika semester akhir malah jarang masuk bahkan banyak meninggalkan tugas. Tentu semua guru merasa heran dengan perubahan sikap siswa tersebut. Setelah sekali, dua kali dianggap mungkin saja sedang sakit atau ada keperluan mendadak tapi lama-kelamaan siswa tersebut malah menghilang selama dua minggu dan meninggalkan proses pembelajaran yang mana pada saat itu sedang pengambilan nilai praktik sebelum melakukan penilaian akhir.

Kasus ini membuat dilema etika bagi wali kelas dan guru mata pelajaran termasuk saya dalam mata pelajaran Bahasa inggris. Karena selama dua tahun sebelumnya siswa tersebut selalu mendapatkan nilai tertinggi dikelas dan mempunyai sikap yang baik.

Saya mencari tahu nomor telfon orang tuanya tetapi tidak dapat sehingga saya berkesempatan bertemu dengan siswa tersebut di jalan menuju ke sekolah. Mau tidak mau saya menghentikan dia yang sedang mengendarai motor dan mengajaknya ke sekolah lagi lalu saya ajak ngobrol santai kenapa selama beberapa minggu ini dia tidak hadir dan tidak mengerjakan tugas kemudian memberikan restitusi kepada siswa tersebut

Saya lihat raut wajahnya yang menahan nangis, dia cuma diam saja ketika saya tanya namun pada akhirnya dia mau jujur bahwa dia sedang mempunyai masalah keluarga, ayahnya sakit dan dia adalah anak pertama dan harus menggantikan ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan karena ayahnya sudah terikat kerja namun tidak bisa melanjutkan, dia juga membiayai adik-adiknya.

Setelah itu saya pergi ke sekolah dan menceritakan kejadian yang dialami siswa tersebut kepada rekan guru yang ada di sekolah. Kasus ini merupakan kasus dilema etika disisi lain kami harus berlaku adil terhadap teman-temannya dan disisi lain kami merasa kasihan dan akhirnya kami meminta siswa tersebut mengerjakan tugas secara daring dan kami sepakat memberikan nilai pada ujian praktik dan untuk ujian akhir siswa tersebut harus diusahakan hadir.

1.      Paradigma berpikir

Keadilan lawan rasa kasihan atau justice vs mercy. Dimana kami harus berlaku adil terhadap teman-temannya yang melaksanakan proses ujian praktik dan mengumpulkan tugas tepat waktu, disisi lain kami merasa kasihan karena beban yang ditanggung anak tersebut begitu besar sehingga tidak dapat membagi waktu juga dia harus membiayai sekolah adik-adiknya dan membayar pengobatan ayahnya.

2. Resolusi berpikir

Saya memilih care based thinking atau berpikir berbasis rasa peduli. Karena jika kami salah mengambil keputusan maka akan berdampak jangka Panjang kepada anak tersebut, artinya kami merasa peduli dengan masa depannya

3. Pengujian Keputusan

Langkah 1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Nilai yang bertentangan adalah benar kami tidak memberi nilai praktik kepada siswa tersebut. Benar juga jika kami memberikan nilai sesuai dengan kriteria yang dia capai.

Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

Dalam situasi ini yang terlibat adalah saya, guru mata pelajaran lain dan siswa.

Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

Faktanya siswa tidak mengerjakan tugas praktik dan tidak masuk sekolah sehingga kami harus mencari tahu keberadaan siswa tersebut dan mengetahui latar belakang kenapa siswa tersebut bersikap demikian

Langkah 4: Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:

· UjiLegal
Tidak ada pelanggaran hukum namun melanggar kesepakatan sekolah yaitu nilai kedisiplinan

· Uji Regulasi
Tidak ada pelanggaran

· Uji Intuisi
Saya merasa tidak nyaman karena bertentangan dengan nilai nilai yang saya Yakini yaitu mengerjakan tugas harus disiplin dan sesuai jadwalnya, disisi lain saya merasa kasihan.

· Uji Publikasi

Saya merasa tidak nyaman jika dipublikasikan karena hal ini sangat berdampak bagi psikis siswa dan kepada warga sekolah

· Uji Panutan/Idola
Saya berpikir dan mengambil contoh dari pimpinan saya sebelumnya tentang beberapa kasus yang beliau selesaikan saya yakin jika dapat pelanggaran yang sama bisa jadi solusinya kan sama

Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar

Berdasarkan analisis saya, saya menggunakan 2 paradigma yaitu justice vs mercy atau keadilan lawan rasa kasihan dan juga jangka pendek vs jangka panjang

Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi , yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:

· Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

· Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

· Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Dari ketiga prinsip berpikir, saya mengambil keputusan berdasarkan prinsip care based thinking

Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema

Alternatif lain, siswa yang lain jika melakukan hal yang sama akan diberikan tindakan yang sama

Langkah 8: Buat Keputusan

Saya memutuskan memberikan nilai kepada siswa tersebut dengan nilai KKM saja

Langkah 9: Tinjau lagi keputusan dan refleksikan

Setelah saya mengambil keputusan saya berpikir Kembali bahwa keputusan yang diambil sudah tepat atau belum, dan saya yakin keputusan sudah tepat karena kasus ini merupakan dilemma etika yang benar lawan benar sehingga keduanya benar tapi mana yang lebih penting.

Saya menggunakan 4 paradigma berpikir, 3 resolusi berpikir dan juga 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan untuk menuntaskan kasus ini kemudian saya berkolaborasi bersama rekan guru yang lain, berkomunikasi dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum dan kepala sekolah.

Saya juga berbagi tentang bagaimana cara pengambilan keputusan kepada rekan sejawat yang didalamnya harus mempertimbangkan nilai nilai kebajikan, dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak kepada murid.

 DOKUMENTASI



                 
RAPAT GURU SMANTURA DI PIMPIN OLEH KEPALA SEKOLAH

KONSULTASI DENGAN WAKIL KEPALA SEKOLAH BIDANG KURIKULUM 

NGOBROL SANTAI DAN MERESTITUSI SISWA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.1

Melepas Dengan Senyum

IMPLEMENTASI BUDAYA POSITIF DI SEKOLAH