3.1.a.9 Rangkuman Koneksi Antar Materi Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI
PEMIMPIN PEMBELAJARAN
oleh
DWI SUDARTI - CGP ANGKATAN 7- KABUPATEN MELAWI
Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya:
“Mengajarkan anak
menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah
yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert
- Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang
sedang Anda pelajari saat ini?
Tugas guru tidak hanya
mengajar murid dalam pengetahuan semata tetapi ada yang lebih penting lagi yaitu
mendidik murid-murid agar berkembang menjadi manusia utuh sesuai kodratnya
masing-masing.
- Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam
suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
Nilai nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut
sebagai pemimpin pembelajaran harus memberikan dampak pada lingkungan kita
sehingga sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil keputusan berdasarkan
pada nilai-nilai kebajikan universal dan apapun yang sudah diputuskan dapat
berkontribusi pada proses pembelajaran dan dilakukan dengan penuh rasa tanggung
jawab.
- Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat
berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan
Anda?
Dalam pengambilan keputusan hendaknya menjunjung
tinggi nilai-nilai kebajikan dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga
nilai-nilai yang diambil dapat diterapkan dalam proses pembelajaran murid tanpa
ragu karena nilai-nilai tersebut akan berdampak pada murid dengan membentuk murid-murid
tersebut menjadi berkarakter baik sesuai nilai-nilai yang diyakininya.
Menurut Anda, apakah maksud
dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda
alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.
Education is the art of
making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~
Maksud
dari kutipan diatas adalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana dalam
mewujudkan pembelajaran yang aktif, megembangkan potensi murid berdasarkan
minat dan bakatnya dan membentuk karakter baik dengan memegang teguh
nilai-nilai kebajikan yang diyakininya sebagaimana telah dikatakan oleh Ki
Hajar Dewantara tentang tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang
ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang
setinggi-tingginya baik sebagai anggota manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Setelah melewati
tahapan-tahapan pembelajaran sebelumnya, saya akan menarik kesimpulan,
berefleksi mengaitkan materi-materi yang sudah dipelajari, baik di dalam
modul 3.1. ataupun kaitannya dengan materi di modul lain.
Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman
Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):
- Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap
Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan
sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Pratap Triloka dalam pendidikan menurut Ki
Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarsa sung tuladha (seorang gruu menjadi teladan
bagi muridnya), Ing Madya Mangun Karsa (seorang guru membangun komunikasi yang
baik dengan muridnya), Tut wuri handayani (Peran guru sebagai motor penggerak
yang mendorong muridnya sesuai dengan potensinya).
Ki Hajar Dewantara mempunyai pandangan bahwa guru
atau seorang pemimpin harus mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya, mampu membangun
semangat dalam mengembangkan bakat, minat dan potensinya. Filosofi Pratap Triloka
memberikan pengaruh besar dalam pengambilan keputusan. Dimana seorang guru atau
pemimpin mampu mengambil keputusan yang berpihak pada murid juga berdampak pada
proses pembelajaran, bertanggung jawab akan keputusan yang telah diambil dan
guru sebagai pamong yang mana mengarahkan murid menuju keselamatan dan
kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh
kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Dalam mengambil keputusan hendaknya guru berpegang
teguh pada prinsip-prinsip atau nilai nilai yang diyakini. Nilai guru penggerak
seperti berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif
seharusnya sudah tertanam dalam diri seorang guru menjadi karakter baik yang
nantinya dapat dijadikan teladan dan motivasi dalam mengambil keputusan secara benar
dan tepat. Dengan berpegang pada prinsip yang telah diyakini maka seorang
pemimpin tidak akan ragu dalam mengambil keputusan atau menyesali tindakan yang
dilakukan setelah diputuskan. Karena sudah bisa membedakan posisi dimana pemimpin
telah dihadapkan pada situasi dilema etika (benar lawan benar) atau bujukan
moral (benar lawan salah).
Bagaimanapun sebagai pemimpin harus mampu
membedakan situasi dan bagaimana cara menyelesaikannya dengan aturan yang benar
sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak kepada
murid. Nilai-nilai kebajikan atau karakter positif yang telah diterapkan guru
seperti dalam kompetensi sosial emosional yaitu kesadaran diri, manajemen diri,
kesadaran sosial, keterampilan berelasi dapat dijadikan sebagai pendukung guru
dalam mengambil keputusan agar semakin bijak dan tepat.
- Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’
(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan
proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan
yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah
efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan
keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya.
Praktik coaching sangat penting dan saya bersyukur
mendapatkan bimbingan dari fasilitator dalam ruang kolaborasi dan membahas
kasus-kasus dimana saya dapat merefleksi kembali apakah praktik coaching yang
saya lakukan sudah berpihak pada murid, sudah sejalan dengan nilai nilai
kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil sudah dapat
dipertanggungjawabkan.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses
kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).
Kompetensi inti coaching adalah kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan
mengajukan pertanyaan berbobot.
Untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan
aktif yaitu RASA yang diperkenalakna oleh Julian Treasure.
Receive yang berarti menerima dan mendengarkan
inforrmasi yang disampaikan oleh coachee
Appreciate yaitu memberikan penghargaan dengan
merespon dan memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee.
Summarize yaitu saat coachee selesai bercerita
rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama.
dan Ask, mengajukan pertanyaan kembali.
Sedangkan Percakapan berbasis coaching dengan alur
TIRTA (Tujuan-Identifikasi-Rencana Aksi-Tanggung jawab)
- Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial
emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya
masalah dilema etika?
Guru harus mempunyai kompetensi sosial emosional
dan menerapkannya dengan baik karena dengan sering menerapkannya akan
berpengaruh ketika guru tersebut sedang dalam pengambilan keputusan. 5
Kompetensi Sosial Emosional yang perlu dikembangkan yaitu
1.
Kesadaran diri,
kemapuan untuk mengenali diri secara akurat tentang emosi, pikiran dan nilai
diri
2.
Manajemen diri,
kemampuan mengatur emosi, pikiran dan perilaku berkaitan dengan penanganan
stress, bertahan menghadapi tantangan dalam mencapai tujuan
3.
Kesadaran sosial,
berkaitan dengan kemampuan untuk dapat berempati kepada orang lain mengambil perspektif
dari berbagai sudut pandang
4.
Kemampuan berelasi,
berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam membangun atau memelihara hubungan
yang sehat antara individu dan kelompok
5.
Pengambilan keputusan
yang bertanggung jawab, kemampuan berkaitan dengan pembuatan pilihan konstruktif
yang benar serta bertindak sesuai etis norma sosial dan keselamatan
Kompetensi sosial emosional ini sangat diperlukan guru
agar fokus dalam mengambil keputusan dengan bijak dan tepat terutama pada
memecahkan situasi dilemma etika atau benar lawan benar serta fokus memberikan
pembelajaran yang berpihak kepada murid sehingga mewujudkan merdeka belajar di
kelas maupun di sekolah.
- Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau
etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Sebagai pendidik harus mampu membedakan permasalahan
yang sedang dihadapi atau situasi dilemma etika dan bujukan moral dan solusinya
diantaranya dengan memikirkan apakah keputusan yang diambil itu berpihak pada
murid, berjalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggung
jawabkan.
Hal tersebut sangat penting apalagi seorang
pendidik merupakan contoh atau teladan bagi murid-muridnya. Maka keputusan yang
diambil harus sejalan dengan nilai-nilai positif yang dianut oleh pendidik
tersebut yaitu berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif.
Sebaiknya nilai-nilai yang dianut tidak bertentangan dengan norma agama dan
norma sosial agar pengambilan keputusan dapat dipertanggung jawabkan dan dampak
resiko pengambilan keputusan sangat kecil tapi keputusan itu dapat bermanfaat
bagi kepentingan umum bukan kepentingan pribadi.
- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada
terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Agar pengambilan keputusan berdampak pada
terciptanya lingkungan positif, kondusif, aman, nyaman, bijak dan tepat. Kita
dapat melakukan 9 langkah pengambil keputusan yaitu
1.
Mengenali nilai-nilai
yang saling bertentangan
2.
Menentukan siapa yang
terlibat dalam situasi ini
3.
Kumpulkan fakta-fakta
yang relevan dengan situasi ini
4.
Pengujian benar salah:
Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intusi, Uji Publikasi, Uji Panutan/Idola
5.
Pengujian paradigma
benar lawan benar
6.
Melakukan prinsip
resolusi
7.
Investigasi Opsi
Trilema
8.
Buat Keputusan
9.
Lihat lagi keputusan
dan refleksikan
- Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Pertama, Budaya positif yang belum diterapkan
secara konsisten mempengaruhi komitmen warga sekolah dalam menjalankan keputusan
bersama. Kedua, kadang keputusan yang diambil kurang tepat karena belum
sepenuhnya berpihak kepada murid.
- Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana
kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda?
Menurut saya, jika pengambilan keputusan sudah di
ambil sudah berpihak pada murid, sejalan dengan nilai-nilai universal dan dapat
dipertanggungjawabkan maka akn ada pengaruh kepada pengajaran yang memerdekakan
murid. Apalagi jika dalam pengambilan keputusan tersebut sudah menggunakan 9
langkah pengambilan keputusan maka akan terlihat secara terperinci apa saja
yang akan kita lakukan dan resiko yang akan kita dapatkan dari keputusan yang
diambil.
Berkaitan dengan memutuskan pembelajaran yang tepat
untuk potensi murid yang berbeda-beda maka kita dapat mengembangkan proses pembelajaran
sesuai kebutuhan anak dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi,pertama,
menentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, kedua, memetakan kebutuhan
belajar siswa dari kesiapan belajar dan profil belajar siswa maka dari hasilnya
akan tergambar jelas secara terperinci apa yang akan kita lakukan untuk memenuhi
kebutuhan belajar siswa tersebut. Kita dapat menentukan strategi, metode,
penilaian agar proses pembelajaran dapat berpihak kepada murid.
- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan
dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Pengambilan keputusan yang
tidak tepat tentu akan berpengaruh bagi masa depan murid. Maka, sebagai
pendidik atau pemimpin pembelajaran harus sering melatih diri untuk mengambil
keputusan agar semakin terampil dan keputusan yang diambil bijak dan tepat.
Murid akan mengikuti gerak gerik dari gurunya. Dalam hal apapun, mereka akan mengamati
apa saja yang dilakukan gurunya termasuk dalam hal penerapan nilai-nilai
positif di sekolah.
Nilai-nilai yang sudah tertanamd
alam diri guru seperti berpihak pada murid,
mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektif, terus menerus dikuatkan atau dipertebal
jangan sampai luntur, sehingga murid-murid akan terinspirasi dari gurunya untuk
menerapkan nilai-nilai positif yang sering diterapkan gurunya.
Dalam pemetaan kebutuhan belajar murid, guru
hendaknya mengamati, memahami dan memberikan solusi dan mengambil keputusan bagaimana
murid harus belajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing berdasarkan kesiapan
belajar dan profil belajar murid sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan
murid belajar tanpa paksaan dan selalu bahagia.
- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul
sebelumnya?
1.
Pengambilan keputusan
adalah kompetensi yang harus dimiliki guru dan harus berlandaskan kepada
filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan dengan pembelajaran
2.
Pengambilan keputusan
harus berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang mana diterapkan
dalam budaya positif sekolah sehingga tercipta lingkungan positif, aman, nyaman
dan kondusif
3.
Guru harus mengembangkan
kompetensi Sosial Emosional agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan
tepat
4.
Coaching dengan alur
TIRTA dapat digunakan sebagai salah satu Langkah dalam pengambilan keputusan
5.
Pemimpin pembelajaran
harus dapat membedakan situasi dilemma etika dan situasi bujukan moral dan
mampu mengambil keputusan dengan menggunakan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan.
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda
pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma
pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di
luar dugaan?
Dilema etika merupakan situasi yang terjadi ketika
seseorang harus memilih antara dua pilihan diana pilihan secara moral benar tetapi
bertentangan sedangkan bujukan moral merupakan situasi yang terjadi ketika
seseorang harus membuat kebutusan antara benar atau salah.
Empat paradigma yang terjadi pada situasi dilema
etika yaitu
1.
Individu lawan
kelompok (individual vs community), tentang bagaimana membuat pilihan antara
apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil, dan apa yang benar untuk
kelompok yang lebih besar.
2.
Rasa keadilan lawan
rasa kasihan (justice vs mercy), dalam paradigma ini, pilihannya adalah mengikuti
aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Kita bisa memilih untuk
berlaku adil dengan memperlakukan hal yang sama bagi semua orang, atau membuat pengecualian
dengan alasan kemurahan hati dan kasih saying.
3.
Kebenaran lawan kesetiaan
(truth vs loyalty), kadang kita harus memilih jujur atau setia kepada orang
lain. Apakah kita jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita akan
menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu atau komitmen yang
telah dibuat sebelumnya.
4.
Jangka pendek lawan jangka
Panjang (short term vs long short term), pada paradigm aini kita ditempatkan
pada pilihan Nampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang
akan datang
3 Prinsip pengambilan keputusan yaitu
1.
Berpikir dengan basis
hasil akhir (ends-based thinking)- seorang guru yang memiliki jiwa sosial
tinggi akan cenderung memilih konsep ini
2.
Berpikit dengan basis peraturan
(rule-based thinking) – guru yang bersikap jujur, teguh akan komitmen dan
tunduk pada peraturan akan menggunakan konsep ini
3.
Berpikir dengan basis
rasa peduli (care-based thinking)- guru yang memiliki rasa empati yang tinggi,
rasa kasih saying, dan kepedulian tinggi cenderung memakai konsep ini
9
Langkah pengambilan dan pengujian keputusan
a.
Mengenali nilai-nilai
yang saling bertentangan
b.
Menentukan siapa yang
terlibat dalam situasi ini
c.
Kumpulkan fakta-fakta
yang relevan dengan situasi ini
d.
Pengujian benar salah:
Uji legal, Uji Regulasi, Uji Intusi, Uji Publikasi, Uji Panutan/Idola
e.
Pengujian paradigma
benar lawan benar
f.
Melakukan prinsip
resolusi
g.
Investigasi Opsi
Trilema
h.
Buat Keputusan
Dalam mempelajari modul pengambilan keputusan ini,
saya berpikir pantas saja saya selalu
banyak bingungnya, lama dalam mengambil keputusan karena ragu apakah keputusan
yang saya ambil ini sudah tepat atau tidak, karena saya tidak membedah kasusnya
secara mendetail sehingga masih banyak kekurangan dan keputusan yang diambil
mempunyai resiko yang tinggi.
- Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan
pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema?
Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah, namun belum menggunakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga waktu itu terasa berat bagi saya untuk
mengambil keputusan setelah saya mempelajari kosep 9 langkah yang dilakukan
dalam pengambilan dan pengujian keputusan saya merasa tenang dan percaya diri
dalam mengambil keputusan.
- Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda,
perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan
sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak mempelajari konsep ini adalah saya belajar
mengambil keputusan dan mempraktikannya baik dengan membedah kasus-kasus dalam
LMS dan kasus-kasus nyata di sekolah terutama pada situasi dilema etika, saya dapat
memahami teori dan konsepnya sehingga ketika saya mendapatkan situasi dilema
etika saya dapat menerapkan konsep tersebut agar dapat mengambil keputusan yang
berpihak pada murid, sejalan dengan nilai nilai universal dan dapat
dipertanggungjawabkan
- Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai
seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sangat penting. Karena selama dalam proses memimpin
tentunya akan banyak tantangan-tantangan yang dihadapi jika kita tidak
mempersiapkan diri dengan ilmu, teori dan konsep serta tidak berlatih menerapkannya
maka kita akan merasa kesulitan dalam mengambil keputusan. Pengambilan
keputusan ini merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh pemimpin dan
harus di asah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya,
kita aka semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang terpenting
dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan
keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

Komentar
Posting Komentar